🌓 Khotbah Natal Rukun Keluarga

Tuhanmaukita memiliki keluarga yang rukun à berkat mengalir. Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan,mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus,sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhankita, Yesus Kristus . RukunKeluarga Lamanggo Biaro, Manado. २५६ लाइक · १ जना यसको बारेमा कुरा गर्दैछन्. Rukun Keluarga yang bergerak dalam bidang Sosial. KeluargaBesar Roring-Lumanauw menggelar ibadah perayaan Natal di Rumah Dinas Bupati Minahasa, Kelurahan Sasaran, Kecamatan Tondano Utara, Senin, 25 Juli 2022 Cari NatsKhotbah: 2 Korintus 5:1-11 Minggu, 8 Januari 2017 Nama Minggu: Minggu Epifania Keluarga yang rukun dalam kasih Allah merupakan kunci untuk menerima berkat Allah; Berkat Allah untuk kerukunan itu adalah diperintahkan, bukan lagi dicari Tema Minggu ini: Natal Kristus Uraian: MembangunKeluarga ~ Ps.Jeffrey Rachmat (Gembala JPCC) Kejadian 2:18 TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." Kejadian2:18 (versi BIS) Lalu TUHAN Allah berkata, "Tidak baik manusia hidup sendirian. Aku akan membuat teman yang cocok untuk membantunya Khotbah Super Junior - Ev. Ronny Budiman | IBADAH KONTEMPORER (24/07/2022) Anggota Keluarga Allah Hidup Saling Mengasihi | IBADAH HYMN - GKKA Makassar (06 Februari 2022) EXORDIUM | PERAYAAN NATAL GKKA Makassar (25 Desember 2021, Pkl. 07.30 WITA) By GKKA Makassar Editor KhotbahNatal. PERSEMBAHAN NATAL. P : Hendaklah kita mempersembahkan syukur kita saat ini dengan sukacita sebab Firman Tuhan berkata: lebih besar berkat memberi daripada menerima. tata ibadah natal rukun keluarga, tata ibadah natal sekolah, tata ibadah natal sekolah minggu, tata ibadah natal sekolah minggu 2022, tata ibadah natal sekolah MatiKarena Tidak Mencintai Didikan. Gairah Cinta Adalah Sukacita. Mencintai didikan menyukai ajaran dan hajaran (Amsal 3 : 11 - 12) Istri Yang Disayang Suami (Seri 7 Mahkota Wanita) Khotbah Populer Pdt Bigman Sirait 20120524 Part 1. Cinta Diri Atau Yesus. Tondano Rukun Keluarga Besar Mamahit-Paendong (MAPAN) menggelar Ibadah menyambut Natal Yesus Kristus, Sabtu (4/12) malam bertempat di Aula Triple M Homestay Tandengan, Kecamatan Eris, Minahasa. Ibadah yang dipimpin oleh Pdt Bryan Tetelepta MTh, dalam khotbahnya yang mengambil Pembacaan Alkitab dari Lukas 1: 26-38 dengan perikop Pemberitahuan tentang Kelahiran Yesus, mengatakan . Orang yang berada di padang pasir yang panas, kering dan tandus pasti butuh air apalagi saat haus. Setetes air di padang gurun pasti tidak akan cukup memuaskan dahaga tetapi setidaknya setetes air itu bisa memberikan harapan, harapan untuk bertahan, harapan untuk meneruskan perjalanan, harapan untuk hidup. Natal Yesus Kristus adalah sebuah harapan di tengah kegelapan dosa, Kita merayakan Natal Tahun ini dalam Tema “Berjumpa dengan Allah dalam Keluarga”. Tema perayaan Natal ini mengajak kita untuk menyadari kehadiran Allah dalam keluarga dan bagaimana keluarga berperan penting dalam sejarah keselamatan. Yesus Putera Natal terlahir dalam kehidupan sebuah keluarga yakni Keluarga Yusuf dan Maria. Kelahiran Yesus menguduskan keluarga Maria dan Yusuf dan menjadikan keluarga muda itu sumber sukacita yang mengantar orang berjumpa dengan Allah. Ada para Gembala datang bergegas menjumpai keluarga Maria, Yusuf, dan Yesus yang terbaring dalam palunganLuk 2 20. Ada orang-orang Majus datang dari Timur untuk berjumpa dengan Yesus dan menyembah Yesus Mat 2 12. Perjumpaan dengan Yesus membuat hidup para gembala dan Majus berubah. Para gembala menjadi orang-orang yang memuji dan memuliakan Allah. Para Majus menjadi orang – orang yang tidak lagi mengikuti jalan Herodes tapi mengikuti jalan Tuhan. Natal merupakan sukacita bagi keluarga karena Yesus Sumber Sukacita memilih hadir di dunia melalui keluarga. Yesus menerima dan menjalani kehidupan sebagai seorang manusia dalam sebuah keluarga. Melalui Yusuf sang Tukang kayu dan Maria, Yesus bertumbuh menjadi anak yang penuh hikmat dan manusia yang taat kepada Allah sampai mati di kayu salib. Dalam perayaan Natal ini, berkat yang diperoleh Maria dan Yusuf juga hadir dalam kehidupan keluarga kita masing – masing. Berkat dan pesan Natal bagi kita melalui Tema Natal Berjumpa dengan Allah dalam Keluarga yaitu Pertama, karena Sang Imanuel lahir dalam suatu keluarga, keluarga pun menjadi ”bait suci”, yaitu tempat pertemuan manusia dengan Allah. Karena itu tema Natal ini mengandung ajakan agar keluarga – keluarga Kristen menjadi rumah pendidikan iman, menjadi sekolah doa bagi anggota-anggota keluarga. Kedua, tema ini membawa kita pada kesadaran betapa luhurnya keluarga dan betapa bernilainya hidup sebagai keluarga karena di situlah Tuhan yang dicari dan dipuji hadir. Keluarga sepatutnya menjadi bait suci di mana kesalahan diampuni dan luka-luka disembuhkan. Ketiga, tema Natal ini mendorong kita untuk meneruskan sukacita keluarga bahwa keluarga menjadi rumah bagi setiap orang yang sehati-sejiwa berjalan menuju Allah, saling berbagi satu sama lain hingga mereka pun mengalami kesejahteraan lahir dan batin. Keempat, tema Natal ini mengundang keluarga untuk menjadi setetes air yang memberi harapan bagi persoalan – persoalan baik dalam keluarga sendiri maupun dalam dunia. Tiap – tiap keluarga punya persoalan dan pergumulan sendiri. Ada masalah kebutuhan ekonomi, soal makan, minum dan pakai tiap - tiap hari, ada pergumulan karena anggota keluarga yang sakit, ada masalah antara orang tua dan anak, kakak dan adik, mertua menantu, ada masalah antara suami dan istri masalah karena orang ketiga, masalah perselingkuhan, masalah ketidakjujuran dalam rumah tangga, ada masalah kenakalan remaja dan masalah moral anak - anak muda anak – anak yang terjerumus miras, narkoba, dan melakukan tindakan - tindakan kriminal, ada pergumulan anak-anak muda soal pekerjaan, soal jodoh, soal masa depan. Ada persoalan setiap anggota keluarga sibuk dan sulit punya waktu untuk menikmati kebersamaan atau untuk bersekutu di Gereja. Pokoknya kita semua menyadari bahwa ada banyak persoalan di dalam dan di sekitar keluarga bahkan ada persoalan yang terasa sulit untuk diselesaikan. Persoalan – persoalan itu menjadi tantangan besar dalam keluarga. Tetapi sebagaimana Natal Yesus Kristus sanggup memulihkan akar dosa di Eden, maka Perjumpaan dengan Allah dalam setiap keluarga sanggup mengubah Krisis menjadi berkat. Juga memberi harapan di tengah berbagai Persoalan. Kelima, ada keluarga – keluarga yang merayakan Natal tapi merasa kurang lengkap karena orang – orang terkasih yang sudah pergi mendahului; Ada merayakan Natal tanpa Papa atau Mama, atau salah satu saudara, atau anak. Para perantau merayakan Natal jauh dari keluarga, atau orang - orang terkasih yang tidak bersama saat ini. Tapi Natal memberi kepada kita harapan, ibarat setetes air di padang gersang memang tak dapat memuaskan dahaga tapi dapat memberi harapan. Keenam, Kita bersyukur atas perjuangan banyak orang untuk membangun keluarga Kristiani sejati, di mana Allah dijumpai. Kita berdoa bagi keluarga yang mengalami kesulitan supaya diberi kekuatan untuk membuka diri agar Yesus pun lahir dan hadir dalam keluarga mereka. Marilah kita menghadirkan Allah dan menjadikan keluarga kita sebagai tempat layak untuk kelahiran Sang Juru Selamat. Di situlah keluarga kita menjadi rahmat dan berkat bagi setiap orang; kabar sukacita bagi dunia. Tuhan memberkati. SELAMAT MERAYAKAN NATAL. Tema Natal “Hidup Bersama Sebagai Keluarga ALLAH”, dengan Sub Tema “Natal memotivasi kita untuk memelihara kerukunan hidup dengan ALLAH, sesama dan lingkungan.” “Sekarang malam telah lenyap dan fajar baru kini menyapa kita. Waktu memang berputar begitu cepat, dan tak terasa hari Natal pun kembali menjelang. Sejenak kita meninggalkan segala kesibukan dan berhimpun di sini sambil memandang pada Betlehem, kota mungil tempat Allah telah menyatakan diri dalam rupa manusia. Dan dalam kebersamaan sebagai orang-orang percaya, sehati mengangkat doa dalam pengharapan akan Hidup Bersama Sebagai Keluarga ALLAH.” Demikian sepenggal kalimat yang dikutip dari Liturgi Kebaktian Natal 25 Desember 2015 Ajakan Beribadah. Kebaktian Natal di Jemaat Gunung Sinai Naikolan dipimpin oleh pelayan tamu, Pdt. Jodi Nenobais-Kebang, dari Jemaat Betlehem Oesapa Barat-Klasis Kupang Tengah. Pembacaan Firman Tuhan terambil dari Kitab Kejadian 912-17 “Perjanjian Allah dengan Nuh” dan Injil Lukas 28-20 “Gembala-gembala.” Mengawali khotbahnya, Pdt. Jodi Nenobais-Kebang, menyoroti tentang semarak perayaan Natal yang cenderung telah menggeser makna Natal yang sebenarnya yakni kesedehanaan. Natal saat ini lebih bersifat ekonomis; mencari keuntungan daripada hidup dalam kebersamaan. ………………………………………………………. Dalam Kejadian 91-17, simbol pelangi yang menjadi tanda kehidupan yang baru/pembaharuan ciptaan Allah. Harapan hidup yang baru juga hadir dalam Yesus Kristus. Harapan hidup baru dimulai dari keluarga, karena Yesus juga lahir dari sebuah keluarga. Yesus lahir memabawa sukacita dan kelepasan. ………………………………………………………. Tema di atas mengajak kita untuk hidup bersama sebagai keluarga Allah. Untuk mewujudkannya, kita memiliki tugas dan tanggungjawab sebagai berikut Melakukan teladan Yesus dengan cara mengembangkan hidup sederhana, peduli satu dengan yang lain, tidak serakah dan tidak egois. Hidup damai, rukun, adil, bahagia dalam keanekaragaman sebagai keluarga Allah walaupun adanya tantangan berupa kesenjangan dan perbedaan yang bisa menjadi faktor penghambat. Hidup dalam kasih; kita merayakan Natal karena kasih Allah yang begitu besar kepada kita. Oleh sebab itu, kita juga harus hidup dalam kasih terhadap sesama, dan rela berkorban demi kebaikan orang lain. Menjaga keutuhan ciptaan Allah dengan memelihara kerukunan hidup dengan Allah, sesama dan lingkungan lihat Sub Tema. Mengakhiri khotbahnya, Pdt. Jodi Nenobais-Kebang, menekankan behwa merayakan Natal bukan sekedar merayakan sukacita, melainkan melakukan tindakan nyata untuk memelihara keutuhan ciptaan dan memelihara kerukunan hidup. Kebaktian Natal 25 Desember 2015 di Jemaat Gunung Sinai Naikolan juga diisi dengan permainan musik dari grup “Kolaborasi Musik Anak Jemaat Betlehem Oesapa Barat”. Selamat merayakan Natal 25 Desember 2015! Tuhan Yesus berkati! Intisari khutbah Jum’at, 3 Maret 2006 M / 3 Shaffar 1427 H Oleh Zulkifli Rahman, Setiap orang yang berumah tangga siapapun orangnya pasti menginginkan rumah tangganya menjadi keluar­ga yang sakinah, mawaddah dan rahmah. Inilah inti do’a yang diaminkan segenap undangan ketika juru do’a me­mimpin do’anya pada setiap walimatul ursy saat pesta perkawinan. Keluarga sakinah me­rupakan langkah awal untuk menyongsong kehidupan abadi, yaitu kehidupan surgawi di akhirat yang sakinah, hanya disedia­kan untuk orang-orang yang berjiwa sakinah dan hidup dengan sakinah. Allah SWT menggambarkan dalam Al-Qur’an يَآأَيَّتُهَاالنَّفْسُ إِلَىرَبِّكِ رَاضِيَةً جَنَّتِي , artinya “Wahai jiwa yang tenteram. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridho dan diridhoi. Lalu masuklah ke dalam kelompok hamba-hambaku yang shaleh dan masuklah ke dalam surga Ku” QS. 89 Al-Fajr 27-30. Keluarga sakinah merupakan langkah awal membangun kehidupan berbangsa dan bernegara yang sakinah. Rumah tangga merupakan unit terkecil dari kehidupan berbangsa dan bernegara. Kondisi bangsa dan negara sangat ditentukan oleh kondisi rumah tangga. Karena itu rumah tangga yang rusak akan menyebabkan bangsa dan negara rusak/kacau dan terpuruk. Sebaliknya rumah tangga sakinah akan membawa kehidupan berbangsa dan bernegara yang sakinah. Allah mengisyaratkan dalam surat 90 Al-Balad 1-3 artinya “Tidak begitu, Perhatikanlah negeri ini, sedang engkau sendiri bertempat tinggal di negeri ini, dan juga Bapak beserta Anak”.Keluarga sakinah bertujuan mendapatkan keturunan/generasi yang ideal; beriman, bertaqwa, cerdas, ber­akhlak karimah dan قُرَّةُ اَعْيُنْ, sebagaimana do’a yang diajarkan Allah رَبَّنَاهَبْ لَنَامِنْ أَزْوَاجِنَاوَذُرِّيَّاتِنَاقُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَالِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا , artinya “Ya Tuhan kami anugerahkanlah kepada kami dari pasangan-pasangan kami dan anak cucu kami sebagai penyejuk mata dan jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa” QS. 25Al-Furqon 74. Generasi seperti tersebut dalam ayat do’a di atas bertumbuh kembang dari keluarga sakinah. Generasi seperti itulah yang kini sedang kita dambakan dalam rangka mengantisipasi KRISIS DEMORALISASI yang sedang melanda masyarakat kita, terutama di kalangan generasi muda kita. Banyak berita-berita setiap hari tentang adanya masalah-masalah yang actual, yang memang disebabkan dari akibat pengaruh-pengaruh adanya PORNOGRAFI dan PORNOAKSI, bahkan konon akan terbit di Indonesia majalah PLAYBOY, kemudian adanya korban-korban NARKOBA dan lain sebagainya. Memang ada tangan-tangan jahil yang bermaksud jahat untuk meruntuhkan bangunan Islam, dimulai dengan meng­hancurkan generasi muda/generasi pewaris. Bagaimana usaha-usaha kita, apa dibiarkan saja RUSAK dan HANCUR, generasi ini sementara menanti dan menanti RUU Anti Pornografi / Pornoaksi saja belum juga disyahkan. Menurut Harian Republika kemarin tanggal. 2/3-06 hal. 5 bahwa RUU APP tersebut mengalami deadlock dan diduga ada kepentingan KAPITALIS GLOBAL yang mencoba menggagalkan penyusunan RUU-APP lewat perpanjangan tangannya di Indonesia. Sebagai muslim tentu kita telusuri ajaran Islam yaitu back to basic. Karena itu untuk menciptakan keluarga sakinah itu, perlu beberapa hal sejak awal-awalnya demi menuju بَيْتِىجَنَّتِى , kata Nabi “Rumahku Surgaku” yaitu antara lain I Harus ada kesamaan aqidah suami – isteri. Oleh karena itu faktor niat untuk menikah dan memilih pasangan harus didahulukan niat ibadah dan karena agama, sebab yang seagama, Insya Allah akan selamat, lihat II Seluruh anggota keluarga harus berakhlakul karimah, terutama dalam hal berkata-kata yang benar. Karena besar sekali dampaknya dalam kehidupan berrumah tangga. Allah berfirman, artinya “Dan berkata-katalah dengan baik / tepat. Niscaya Allah akan memperbaiki perilakumu yang sangat bermanfaat bagi kamu dan Allah mengampuni dosa-dosa kamu…” QS. 33 Al-Ahzab 70 – 71 III Harus ada kemauan memahami dan mengamalkan syari’at Islam, terutama tentang batasan HALAL dan HARAM. Dengan demikian seluruh aktivitas yang dilakukan oleh anggota keluarga, baik di dalam maupun di luar rumah, ketika bekerja maupun sedang istirahat, ketika beribadah maupun sedang bermain-main, tidak ada yang menyimpang dari riil syari’ah. Hal ini sesuai sabda Rasulullah SAW اِذَااَرَادَاللهُ اَهْلَ بَيْتٍ خَيْرًافَقَّهَهُمْ ِفىالدِّيْنِ , artinya “Apabila Allah menghendaki kebaikan kepada Pembina Rumah Tangga, maka Allah akan memberikan pemahaman tentang agama kepada mereka” HR. Bukhari. IV Harus ada saling pengertian. Setiap Manusia tidak luput dari kekurangan. Demi keharmonisan Rumah Tangga, kekurangan itu harus dieliminasi dan diantisipasi sejak dini dengan menumbuhkan saling pengertian, terutama antara suami isteri. Hal ini diisyaratkan Allah dalam Surat Al-Baqarah 228, artinya “Perempuan isteri mempunyai hak seimbang dengan kewajiban-kewajiban atas mereka dengan cara-cara yang baik”. V Harus ada kepemimpinan dan ketaatan kepada pimpinan. Dalam hal ini kepemimpinan dibebankan kepada laki-laki suami, sedangkan isteri harus patuh. Namun semuanya harus dalam batas-batas alal birri wat taqwâ. Allah SWT berfirman dalam Surat ke-4, An-Nisa ayat 34, artinya “Laki-laki suami adalah pengurus atas perempuan isteri, lantaran Allah telah melebihkan sebagian kamu atas sebagian yang lain, dan lantaran suami harus menafkahkan isteri dari harta-harta mereka. Maka isteri-isteri yang sholihah adalah isteri-isteri yang patuh dan menjaga diri ketika suami tidak berada di rumah dengan aturan yang telah ditetapkan Allah”.Demikianlah khutbah singkat ini, semoga Allah menjadikan kita mampu membangun Rumah Tangga kita sakinah untuk menuju “rumahku surgaku”. Amin. Filed under Tak Berkategori

khotbah natal rukun keluarga